Sejarah Organisasi

PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Cabang Kota Yogyakarta mulai aktif sejak PKBI didirikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak Kota Yogyakarta sebagai ibukota menjadikan PKBI Kota sangat identik dengan PKBI DIY.

Sesuai dengan namanya, PKBI sangat kuat mengkampanyekan isu hak-hak perempuan dan hak-hak Keluarga Berencana. Bahwa perempuan jangan hanya dijadikan sebagai objek pemenuhan reproduksi saja tetapi juga harus memperhatikan dan keselamatan perempuan. Salah satu wujud nyata upaya PKBI adalah dengan mendorong perempuan bisa asertif dalam keluarga dan bisa berkompromi dalam menentukan jumlah anak. AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB (Angka Kematian Bayi) yang cukup tinggi di Indonesia pada tahun 1960-an jelas menjadi target berat untuk PKBI, karena dengan AKI dan AKB yang tinggi jelas mencerminkan belum terpenuhinya hak-hak perempuan.

Dalam perkembangannya, isu yang diusung PKBI tidak hanya pada Keluarga Berencana menjarangkan kelahiran saja, tetapi mulai pada hak-hak kespro (kesehatan reproduksi) perempuan baik PUS (Pasangan Usia Subur) maupun remaja, juga perempuan termarjinal.

Pada tahun 2006, bersama dengan PKBI Cabang lain di DIY, PKBI Kota mempunyai Direktur Pelaksana Cabangselain pengurus cabang PKBI yang sudah eksis. Program yang mulai dijalankan adalah program HIVOS dengan fokus pada pendampingan komunitas di 5 kelurahan; Pringgokusuman dan Sosromenduran di Kecamatan Gedongtengen dan Kelurahan Giwangan, Mujamuju, serta Warungboto di Kecamatan Umbulharjo. PKBI Kota mulai mengusung isu selain KB dan Kespro Perempuan, adalah tentang reduksi stigma dan diskriminasi HIV-AIDS. Program ini dijalankan sampai sekarang, meski fokus utama PKBI Kota masih pada pemenuhan HKSR.

Gambar

Iklan